Jumat, 27 November 2009

Rukun Ibadah

ibadah seorang
hamba harus
dibangun oleh tiga
pilar, dan ketiganya
harus terkumpul
seluruhnya dalam
setiap muslim.
Ibadah seseorang
tidaklah akan benar
dan sempurna
kecuali dengan
adanya pilar-pilar
tersebut. Bahkan
sebagian ulama
mengatakannya
sebagai ‘rukun
ibadah’. Tiga hal
itu adalah “cinta,
takut dan harap”.
Sehingga seorang
salaf berkata,
“ Barang siapa
beribadah kepada
Alloh dengan cinta
saja maka dia
seorang zindiq,
barang siapa
beribadah hanya
dengan khouf
(takut) saja maka
haruri (khowarij),
barang siapa
beribadah hanya
dengan rasa harap
saja maka dia
seorang murji’ dan
barang siapa yang
beribadah dengan
cinta, takut dan
harap maka dia
seorang mukmin. ”
Cinta
Cinta adalah rukun
ibadah yang
terpenting, karena
cinta adalah pokok
ibadah. Makna cinta
tidak terbatas
hanya kepada
hubungan kasih
antara dua insan
semata, namun
sesungguhnya
makna dari cinta itu
lebih luas dan
dalam. Kecintaan
yang paling agung
dan mulia di dalam
kehidupan kita ini
adalah kecintaan
kita kepada Alloh.
Dimana jika seorang
hamba mencintai
Alloh, maka dia akan
rela untuk
melakukan seluruh
hal yang
diperintahkan dan
menjauhi seluruh
hal yang dilarang
oleh yang
dicintainya
tersebut. Cinta
kepada Alloh juga
mengharuskan
membenci segala
sesuatu yang
dibenci oleh Alloh.
Sesungguhnya
apabila ditanyakan
kepada setiap
muslim “Apakah
anda mencintai
Alloh ?” maka tentu
dia akan menjawab
“ Tentu saja”.
Namun pernyataan
tanpa bukti tidaklah
bermanfaat. Alloh
tidak membutuhkan
pernyataan belaka,
Dia menginginkan
agar kita
membuktikan
pernyataan kita
“ Aku cinta Alloh”.
Oleh karena itulah,
Alloh menguji setiap
muslim dalam
firman-Nya,
“ Katakanlah
(wahai
muhammad): Jika
kamu (benar-benar)
mencintai Allah,
ikutilah aku, niscaya
Allah mengasihi dan
mengampuni dosa-
dosamu. Allah Maha
Pengampun lagi
Maha
Penyayang. ” (Ali
Imran: 31). Ya, bukti
kecintaan kita
kepada Alloh adalah
dengan mengikuti
Rasululloh dalam
segala hal. Bahkan
kecintaan kita
terhadap beliau
harus lebih dari
kecintaan kita
terhadap diri sendiri
dan keluarga.
Beliaulah teladan
baik dalam aqidah,
ibadah, akhlak,
muamalah dan
sebagainya. Alloh
berfirman,
“Sesungguhnya
telah ada pada (diri)
Rasulullah itu suri
teladan yang baik
bagimu (yaitu) bagi
orang yang
mengharap
(rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari
kiamat dan dia
banyak menyebut
Allah. ” (Al Ahzab:
21)
Maka jika kita
mencintai Alloh,
mari kita buktikan
dengan menjadikan
Rasululloh sebagai
panutan kita, bukan
dengan menjadikan
orang-orang kafir
sebagai panutan,
walaupun mereka
itu populer dan
terkenal seperti
artis, selebritis dan
semacamnya.
Karena
sesungguhnya
Rosululloh bersabda
“ Seseorang itu
akan bersama
dengan orang yang
dicintainya (di hari
akhirat nanti). ” (HR.
Muslim). Dimana
makna dari hadits
ini adalah jika
ketika di dunia kita
mencintai orang-
orang shaleh
(seperti para rosul
dan nabi) dan
menjadikan mereka
teladan, maka di
akhirat nanti kita
akan bersama
mereka, dan
sebaliknya jika
ketika di dunia kita
mencintai orang-
orang kafir dan
menjadikan mereka
teladan, maka di
akhirat nanti kita
pun akan bersama
mereka. Bukankah
tempat mereka di
akherat merupakan
seburuk-buruk
tempat. Duhai,
betapa musibah
yang sangat besar!
Takut
Pilar lainnya yang
mesti ada dalam
ibadah seorang
muslim adalah rasa
takut. Dimana
dengan adanya rasa
takut, seorang
hamba akan
termotivasi untuk
rajin mencari ilmu
dan beribadah
kepada Alloh
semata agar bebas
dari murka dan
adzab-Nya. Selain
itu, rasa takut inilah
yang juga dapat
mencegah
keinginan
seseorang untuk
berbuat maksiat.
Alloh berfirman,
“( Yaitu) orang-
orang yang takut
akan (azab) Tuhan
mereka, sedang
mereka tidak
melihat-Nya, dan
mereka merasa
takut akan (tibanya)
hari kiamat. ” (Al
Anbiya: 49)
Rasa takut ada
bermacam-macam,
namun yang
takutnya seorang
muslim ialah takut
akan pedihnya
sakaratul maut,
rasa takut akan
adzab kubur, rasa
takut terhadap
siksa neraka, rasa
takut akan mati
dalam keadaan
yang buruk (mati
dalam keadaan
sedang bermaksiat
kepada Alloh), rasa
takut akan
hilangnya iman dan
lain sebagainya.
Rasa takut
semacam inilah
yang harus ada
dalam hati seorang
hamba.
Harap
Pilar berikutnya
yang harus ada
dalam ibadah
seorang hamba
adalah rasa harap.
Rasa harap yang
dimaksud adalah
antara lain harapan
akan diterimanya
amal kita, harapan
akan dimasukkan
surga, harapan
untuk berjumpa
dengan Alloh,
harapan akan
diampuni dosa,
harapan untuk
dijauhkan dari
neraka, harapan
diberikan kehidupan
yang bahagia di
dunia dan akhirat
dan lain sebagainya.
Rasa harap inilah
yang dapat
mendorong
seseorang untuk
tetap terus
berusaha untuk
taat, meskipun
sesekali dia terjatuh
ke dalam
kemaksiatan namun
dia tidak putus asa
untuk terus
berusaha sekuat
tenaga untuk
menjadi hamba
yang taat. Karena
dia berharap Alloh
akan mengampuni
dosanya yaitu
dengan jalan
bertaubat dari
kesalahannya
tersebut dan
memperbanyak
melakukan amal
kebaikan.
Sebagaimana
firman Alloh
“ Wahai hamba-
hamba-Ku yang
malampaui batas
terhadap diri
mereka sendiri,
janganlah kamu
berputus asa dari
rahmat Allah.
Sesungguhnya Allah
mengampuni dosa-
dosa semuanya.
Sesungguhnya Dia-
lah Yang Maha
Pengampun lagi
Maha
Penyayang. ” (Az
Zumar: 53)
Harapan berbeda
dengan angan-
angan. Sebagai
contoh orang yang
berharap menjadi
orang baik maka ia
akan melakukan
hal-hal yang
merupakan ciri-ciri
orang baik,
sedangkan orang
yang berkeinginan
menjadi orang baik
namun tidak
berusaha untuk
melakukan
kebaikan maka
orang-orang inilah
yang tertipu oleh
angan-angan
dirinya sendiri.
Urgensi Cinta, Takut
dan Harap Dalam
Ibadah
Ketiga pilar yang
telah disebutkan di
atas harus terdapat
dalam setiap ibadah
seorang hamba.
Tidaklah benar
ibadah seseorang
jika satu saja dari
ketiga hal tersebut
hilang. Seseorang
yang memiliki rasa
takut yang
berlebihan akan
menyebabkan
dirinya putus asa,
sedangkan jika rasa
takutnya rendah
maka dengan
mudahnya dia akan
bermaksiat kepada
Tuhannya.
Kebalikannya
seseorang yang
berlebihan rasa
harapnya akan
menyebabkan dia
mudah bermaksiat
dan jika rendah rasa
harapnya maka dia
akan mudah putus
asa. Sedangkan
kedudukan cinta,
maka cinta inilah
yang mendorong
seseorang untuk
melakukan sesuatu.
Sehingga
diibaratkan bahwa
kedudukan ketiga
pilar ini dalam
ibadah bagaikan
kedudukan seekor
burung, dimana rasa
takut dan harap
sebagai kedua
sayapnya yang
harus seimbang dan
rasa cinta sebagai
kepalanya yang
merupakan pokok
kehidupannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar