Do'a ku
Letih,Lelah hati ini..,gersang merindukan pancaran air...
Jauh rasanya aku dengan-Mu, rasa ini membuatku tak berdaya dan aku jatuh berderai...
Ingin rasanya kucaci maki diriku yg tak bisa mensyukuri akan nikmatMu...,
Sekejap hembusan angin membelaiku, air menyiramiku, dan cahaya menuntun penglihatanku, adalah engkau Allah...,pelita hidupku
Bisikan nurani mengajakku untuk mensucikan jasad dan jiwaku yg tlah lama terkubur, berharap pintu ampunanMu masih terbuka untukku...
Tetesan air ini semoga berjatuhan dengan dosa2ku yg tak bisa kuhitung bagai jutaan bintang bintang...
Kubersujud tanda cintaku padaMu, kulafazkan kalimah istighfar tanda penyesalanku, mendamba menjadi insan yg suci kembali...
Ya Allah, janganlah engkau musnahkan cintaku padaMu selagi aku masih bernafas, tetapi musnahkanlah bersama dengan jasadku yg telah mati...,
Aku sungguh takut kehilangan cinta darimu....
Sepenggal doa yg terlupakan, sebuah doa dari insan pendosa...
Selasa, 08 Desember 2009
Sabtu, 05 Desember 2009
Syair Pertemanan
sahabat sejati?
siapa dia? yg aku
tau, dia kan selalu
mjd bagian dr
hidupku. ktika aku
lalai dia akan
mengingatkan. ktika
brsedih ia penawar
kesdihan, ketika
jarak memisahkan ia
tiada lupa. aku tak
mampu melangkah
tanpa kalian. semoga
pertemanan ini kan
tetap terjaga hingga
kutak mampu
bernafas
lagi...
siapa dia? yg aku
tau, dia kan selalu
mjd bagian dr
hidupku. ktika aku
lalai dia akan
mengingatkan. ktika
brsedih ia penawar
kesdihan, ketika
jarak memisahkan ia
tiada lupa. aku tak
mampu melangkah
tanpa kalian. semoga
pertemanan ini kan
tetap terjaga hingga
kutak mampu
bernafas
lagi...
Senin, 30 November 2009
Syair Seorang Hamba
Trian Cacian ,makian,
dan hinaan sekarang
menjadi teman.
walaupun aku
merasa sepi dan
terasing dari pentas
dunia ini, namun aku
yakin pasti ada
saatnya nanti
kurasakan indahnya
menatap-Mu.
kemudian engkau
tempatkan aku
bersama para
kekasih-kekasih-Mu
di tempat yg mulia,
sungguh inilah sebaik
baik kenikmatan dan
tiada satupun yg
menyamainya. cintai
aku, walau cintaku
ini tiada pernah
sempurna.....
dan hinaan sekarang
menjadi teman.
walaupun aku
merasa sepi dan
terasing dari pentas
dunia ini, namun aku
yakin pasti ada
saatnya nanti
kurasakan indahnya
menatap-Mu.
kemudian engkau
tempatkan aku
bersama para
kekasih-kekasih-Mu
di tempat yg mulia,
sungguh inilah sebaik
baik kenikmatan dan
tiada satupun yg
menyamainya. cintai
aku, walau cintaku
ini tiada pernah
sempurna.....
Minggu, 29 November 2009
LUPA?
Penyebab lupa adalah :
1. sakit keras jadi otak terganggu
2.kesan yg diterima terlalu lama
3. kesan yg diterima tdk menarik
4.terdesak tanggapan yg baru
5. karena situasi tertentu
1. sakit keras jadi otak terganggu
2.kesan yg diterima terlalu lama
3. kesan yg diterima tdk menarik
4.terdesak tanggapan yg baru
5. karena situasi tertentu
Daya Ingat
yaitu kemampuan untuk mencamkan, menyimpan, dan mereproduksikan kembali kesan yg telah dialami.
1. mencamkan adalah melaksanakan kesan sedemikian rupa sehingga tersimpan dan dapat diproduksikan
2. menyimpan, yaitu kesan2 yg disimpan dpt brkesan.
3. mereproduksi, yaitu aktivitas jiwa untuk membangun kembali jiwa2 yg telah diterima
-recall, menggali kembali tuk diingat
-recognize, mengenal kembali
-relearned, mempelajari kembali
1. mencamkan adalah melaksanakan kesan sedemikian rupa sehingga tersimpan dan dapat diproduksikan
2. menyimpan, yaitu kesan2 yg disimpan dpt brkesan.
3. mereproduksi, yaitu aktivitas jiwa untuk membangun kembali jiwa2 yg telah diterima
-recall, menggali kembali tuk diingat
-recognize, mengenal kembali
-relearned, mempelajari kembali
ruang lingkup psikologi umum
1.konasi--gejala jw kehendak, (dor nafsu,reflek,insting,keinginan,hawa nafsu)
2.kognisi--gjala jw pengenalan, meliputi ( penginderaan, pengamatan, tanggapan, assosiasi, reproduksi, ingatan, fantasi, berfikir, inteligensi
3.Emosi--gjla jiwa perasaan, ( perasaan keinderaan, perasaan vital, perasaan berdasar insting, perasaan sosial, perasaan diri sendiri, perasaan kbudayaan )
4. Campuran--perhatian,kesalahan dan sugesti
2.kognisi--gjala jw pengenalan, meliputi ( penginderaan, pengamatan, tanggapan, assosiasi, reproduksi, ingatan, fantasi, berfikir, inteligensi
3.Emosi--gjla jiwa perasaan, ( perasaan keinderaan, perasaan vital, perasaan berdasar insting, perasaan sosial, perasaan diri sendiri, perasaan kbudayaan )
4. Campuran--perhatian,kesalahan dan sugesti
Jumat, 27 November 2009
Rukun Ibadah
ibadah seorang
hamba harus
dibangun oleh tiga
pilar, dan ketiganya
harus terkumpul
seluruhnya dalam
setiap muslim.
Ibadah seseorang
tidaklah akan benar
dan sempurna
kecuali dengan
adanya pilar-pilar
tersebut. Bahkan
sebagian ulama
mengatakannya
sebagai ‘rukun
ibadah’. Tiga hal
itu adalah “cinta,
takut dan harap”.
Sehingga seorang
salaf berkata,
“ Barang siapa
beribadah kepada
Alloh dengan cinta
saja maka dia
seorang zindiq,
barang siapa
beribadah hanya
dengan khouf
(takut) saja maka
haruri (khowarij),
barang siapa
beribadah hanya
dengan rasa harap
saja maka dia
seorang murji’ dan
barang siapa yang
beribadah dengan
cinta, takut dan
harap maka dia
seorang mukmin. ”
Cinta
Cinta adalah rukun
ibadah yang
terpenting, karena
cinta adalah pokok
ibadah. Makna cinta
tidak terbatas
hanya kepada
hubungan kasih
antara dua insan
semata, namun
sesungguhnya
makna dari cinta itu
lebih luas dan
dalam. Kecintaan
yang paling agung
dan mulia di dalam
kehidupan kita ini
adalah kecintaan
kita kepada Alloh.
Dimana jika seorang
hamba mencintai
Alloh, maka dia akan
rela untuk
melakukan seluruh
hal yang
diperintahkan dan
menjauhi seluruh
hal yang dilarang
oleh yang
dicintainya
tersebut. Cinta
kepada Alloh juga
mengharuskan
membenci segala
sesuatu yang
dibenci oleh Alloh.
Sesungguhnya
apabila ditanyakan
kepada setiap
muslim “Apakah
anda mencintai
Alloh ?” maka tentu
dia akan menjawab
“ Tentu saja”.
Namun pernyataan
tanpa bukti tidaklah
bermanfaat. Alloh
tidak membutuhkan
pernyataan belaka,
Dia menginginkan
agar kita
membuktikan
pernyataan kita
“ Aku cinta Alloh”.
Oleh karena itulah,
Alloh menguji setiap
muslim dalam
firman-Nya,
“ Katakanlah
(wahai
muhammad): Jika
kamu (benar-benar)
mencintai Allah,
ikutilah aku, niscaya
Allah mengasihi dan
mengampuni dosa-
dosamu. Allah Maha
Pengampun lagi
Maha
Penyayang. ” (Ali
Imran: 31). Ya, bukti
kecintaan kita
kepada Alloh adalah
dengan mengikuti
Rasululloh dalam
segala hal. Bahkan
kecintaan kita
terhadap beliau
harus lebih dari
kecintaan kita
terhadap diri sendiri
dan keluarga.
Beliaulah teladan
baik dalam aqidah,
ibadah, akhlak,
muamalah dan
sebagainya. Alloh
berfirman,
“Sesungguhnya
telah ada pada (diri)
Rasulullah itu suri
teladan yang baik
bagimu (yaitu) bagi
orang yang
mengharap
(rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari
kiamat dan dia
banyak menyebut
Allah. ” (Al Ahzab:
21)
Maka jika kita
mencintai Alloh,
mari kita buktikan
dengan menjadikan
Rasululloh sebagai
panutan kita, bukan
dengan menjadikan
orang-orang kafir
sebagai panutan,
walaupun mereka
itu populer dan
terkenal seperti
artis, selebritis dan
semacamnya.
Karena
sesungguhnya
Rosululloh bersabda
“ Seseorang itu
akan bersama
dengan orang yang
dicintainya (di hari
akhirat nanti). ” (HR.
Muslim). Dimana
makna dari hadits
ini adalah jika
ketika di dunia kita
mencintai orang-
orang shaleh
(seperti para rosul
dan nabi) dan
menjadikan mereka
teladan, maka di
akhirat nanti kita
akan bersama
mereka, dan
sebaliknya jika
ketika di dunia kita
mencintai orang-
orang kafir dan
menjadikan mereka
teladan, maka di
akhirat nanti kita
pun akan bersama
mereka. Bukankah
tempat mereka di
akherat merupakan
seburuk-buruk
tempat. Duhai,
betapa musibah
yang sangat besar!
Takut
Pilar lainnya yang
mesti ada dalam
ibadah seorang
muslim adalah rasa
takut. Dimana
dengan adanya rasa
takut, seorang
hamba akan
termotivasi untuk
rajin mencari ilmu
dan beribadah
kepada Alloh
semata agar bebas
dari murka dan
adzab-Nya. Selain
itu, rasa takut inilah
yang juga dapat
mencegah
keinginan
seseorang untuk
berbuat maksiat.
Alloh berfirman,
“( Yaitu) orang-
orang yang takut
akan (azab) Tuhan
mereka, sedang
mereka tidak
melihat-Nya, dan
mereka merasa
takut akan (tibanya)
hari kiamat. ” (Al
Anbiya: 49)
Rasa takut ada
bermacam-macam,
namun yang
takutnya seorang
muslim ialah takut
akan pedihnya
sakaratul maut,
rasa takut akan
adzab kubur, rasa
takut terhadap
siksa neraka, rasa
takut akan mati
dalam keadaan
yang buruk (mati
dalam keadaan
sedang bermaksiat
kepada Alloh), rasa
takut akan
hilangnya iman dan
lain sebagainya.
Rasa takut
semacam inilah
yang harus ada
dalam hati seorang
hamba.
Harap
Pilar berikutnya
yang harus ada
dalam ibadah
seorang hamba
adalah rasa harap.
Rasa harap yang
dimaksud adalah
antara lain harapan
akan diterimanya
amal kita, harapan
akan dimasukkan
surga, harapan
untuk berjumpa
dengan Alloh,
harapan akan
diampuni dosa,
harapan untuk
dijauhkan dari
neraka, harapan
diberikan kehidupan
yang bahagia di
dunia dan akhirat
dan lain sebagainya.
Rasa harap inilah
yang dapat
mendorong
seseorang untuk
tetap terus
berusaha untuk
taat, meskipun
sesekali dia terjatuh
ke dalam
kemaksiatan namun
dia tidak putus asa
untuk terus
berusaha sekuat
tenaga untuk
menjadi hamba
yang taat. Karena
dia berharap Alloh
akan mengampuni
dosanya yaitu
dengan jalan
bertaubat dari
kesalahannya
tersebut dan
memperbanyak
melakukan amal
kebaikan.
Sebagaimana
firman Alloh
“ Wahai hamba-
hamba-Ku yang
malampaui batas
terhadap diri
mereka sendiri,
janganlah kamu
berputus asa dari
rahmat Allah.
Sesungguhnya Allah
mengampuni dosa-
dosa semuanya.
Sesungguhnya Dia-
lah Yang Maha
Pengampun lagi
Maha
Penyayang. ” (Az
Zumar: 53)
Harapan berbeda
dengan angan-
angan. Sebagai
contoh orang yang
berharap menjadi
orang baik maka ia
akan melakukan
hal-hal yang
merupakan ciri-ciri
orang baik,
sedangkan orang
yang berkeinginan
menjadi orang baik
namun tidak
berusaha untuk
melakukan
kebaikan maka
orang-orang inilah
yang tertipu oleh
angan-angan
dirinya sendiri.
Urgensi Cinta, Takut
dan Harap Dalam
Ibadah
Ketiga pilar yang
telah disebutkan di
atas harus terdapat
dalam setiap ibadah
seorang hamba.
Tidaklah benar
ibadah seseorang
jika satu saja dari
ketiga hal tersebut
hilang. Seseorang
yang memiliki rasa
takut yang
berlebihan akan
menyebabkan
dirinya putus asa,
sedangkan jika rasa
takutnya rendah
maka dengan
mudahnya dia akan
bermaksiat kepada
Tuhannya.
Kebalikannya
seseorang yang
berlebihan rasa
harapnya akan
menyebabkan dia
mudah bermaksiat
dan jika rendah rasa
harapnya maka dia
akan mudah putus
asa. Sedangkan
kedudukan cinta,
maka cinta inilah
yang mendorong
seseorang untuk
melakukan sesuatu.
Sehingga
diibaratkan bahwa
kedudukan ketiga
pilar ini dalam
ibadah bagaikan
kedudukan seekor
burung, dimana rasa
takut dan harap
sebagai kedua
sayapnya yang
harus seimbang dan
rasa cinta sebagai
kepalanya yang
merupakan pokok
kehidupannya.
hamba harus
dibangun oleh tiga
pilar, dan ketiganya
harus terkumpul
seluruhnya dalam
setiap muslim.
Ibadah seseorang
tidaklah akan benar
dan sempurna
kecuali dengan
adanya pilar-pilar
tersebut. Bahkan
sebagian ulama
mengatakannya
sebagai ‘rukun
ibadah’. Tiga hal
itu adalah “cinta,
takut dan harap”.
Sehingga seorang
salaf berkata,
“ Barang siapa
beribadah kepada
Alloh dengan cinta
saja maka dia
seorang zindiq,
barang siapa
beribadah hanya
dengan khouf
(takut) saja maka
haruri (khowarij),
barang siapa
beribadah hanya
dengan rasa harap
saja maka dia
seorang murji’ dan
barang siapa yang
beribadah dengan
cinta, takut dan
harap maka dia
seorang mukmin. ”
Cinta
Cinta adalah rukun
ibadah yang
terpenting, karena
cinta adalah pokok
ibadah. Makna cinta
tidak terbatas
hanya kepada
hubungan kasih
antara dua insan
semata, namun
sesungguhnya
makna dari cinta itu
lebih luas dan
dalam. Kecintaan
yang paling agung
dan mulia di dalam
kehidupan kita ini
adalah kecintaan
kita kepada Alloh.
Dimana jika seorang
hamba mencintai
Alloh, maka dia akan
rela untuk
melakukan seluruh
hal yang
diperintahkan dan
menjauhi seluruh
hal yang dilarang
oleh yang
dicintainya
tersebut. Cinta
kepada Alloh juga
mengharuskan
membenci segala
sesuatu yang
dibenci oleh Alloh.
Sesungguhnya
apabila ditanyakan
kepada setiap
muslim “Apakah
anda mencintai
Alloh ?” maka tentu
dia akan menjawab
“ Tentu saja”.
Namun pernyataan
tanpa bukti tidaklah
bermanfaat. Alloh
tidak membutuhkan
pernyataan belaka,
Dia menginginkan
agar kita
membuktikan
pernyataan kita
“ Aku cinta Alloh”.
Oleh karena itulah,
Alloh menguji setiap
muslim dalam
firman-Nya,
“ Katakanlah
(wahai
muhammad): Jika
kamu (benar-benar)
mencintai Allah,
ikutilah aku, niscaya
Allah mengasihi dan
mengampuni dosa-
dosamu. Allah Maha
Pengampun lagi
Maha
Penyayang. ” (Ali
Imran: 31). Ya, bukti
kecintaan kita
kepada Alloh adalah
dengan mengikuti
Rasululloh dalam
segala hal. Bahkan
kecintaan kita
terhadap beliau
harus lebih dari
kecintaan kita
terhadap diri sendiri
dan keluarga.
Beliaulah teladan
baik dalam aqidah,
ibadah, akhlak,
muamalah dan
sebagainya. Alloh
berfirman,
“Sesungguhnya
telah ada pada (diri)
Rasulullah itu suri
teladan yang baik
bagimu (yaitu) bagi
orang yang
mengharap
(rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari
kiamat dan dia
banyak menyebut
Allah. ” (Al Ahzab:
21)
Maka jika kita
mencintai Alloh,
mari kita buktikan
dengan menjadikan
Rasululloh sebagai
panutan kita, bukan
dengan menjadikan
orang-orang kafir
sebagai panutan,
walaupun mereka
itu populer dan
terkenal seperti
artis, selebritis dan
semacamnya.
Karena
sesungguhnya
Rosululloh bersabda
“ Seseorang itu
akan bersama
dengan orang yang
dicintainya (di hari
akhirat nanti). ” (HR.
Muslim). Dimana
makna dari hadits
ini adalah jika
ketika di dunia kita
mencintai orang-
orang shaleh
(seperti para rosul
dan nabi) dan
menjadikan mereka
teladan, maka di
akhirat nanti kita
akan bersama
mereka, dan
sebaliknya jika
ketika di dunia kita
mencintai orang-
orang kafir dan
menjadikan mereka
teladan, maka di
akhirat nanti kita
pun akan bersama
mereka. Bukankah
tempat mereka di
akherat merupakan
seburuk-buruk
tempat. Duhai,
betapa musibah
yang sangat besar!
Takut
Pilar lainnya yang
mesti ada dalam
ibadah seorang
muslim adalah rasa
takut. Dimana
dengan adanya rasa
takut, seorang
hamba akan
termotivasi untuk
rajin mencari ilmu
dan beribadah
kepada Alloh
semata agar bebas
dari murka dan
adzab-Nya. Selain
itu, rasa takut inilah
yang juga dapat
mencegah
keinginan
seseorang untuk
berbuat maksiat.
Alloh berfirman,
“( Yaitu) orang-
orang yang takut
akan (azab) Tuhan
mereka, sedang
mereka tidak
melihat-Nya, dan
mereka merasa
takut akan (tibanya)
hari kiamat. ” (Al
Anbiya: 49)
Rasa takut ada
bermacam-macam,
namun yang
takutnya seorang
muslim ialah takut
akan pedihnya
sakaratul maut,
rasa takut akan
adzab kubur, rasa
takut terhadap
siksa neraka, rasa
takut akan mati
dalam keadaan
yang buruk (mati
dalam keadaan
sedang bermaksiat
kepada Alloh), rasa
takut akan
hilangnya iman dan
lain sebagainya.
Rasa takut
semacam inilah
yang harus ada
dalam hati seorang
hamba.
Harap
Pilar berikutnya
yang harus ada
dalam ibadah
seorang hamba
adalah rasa harap.
Rasa harap yang
dimaksud adalah
antara lain harapan
akan diterimanya
amal kita, harapan
akan dimasukkan
surga, harapan
untuk berjumpa
dengan Alloh,
harapan akan
diampuni dosa,
harapan untuk
dijauhkan dari
neraka, harapan
diberikan kehidupan
yang bahagia di
dunia dan akhirat
dan lain sebagainya.
Rasa harap inilah
yang dapat
mendorong
seseorang untuk
tetap terus
berusaha untuk
taat, meskipun
sesekali dia terjatuh
ke dalam
kemaksiatan namun
dia tidak putus asa
untuk terus
berusaha sekuat
tenaga untuk
menjadi hamba
yang taat. Karena
dia berharap Alloh
akan mengampuni
dosanya yaitu
dengan jalan
bertaubat dari
kesalahannya
tersebut dan
memperbanyak
melakukan amal
kebaikan.
Sebagaimana
firman Alloh
“ Wahai hamba-
hamba-Ku yang
malampaui batas
terhadap diri
mereka sendiri,
janganlah kamu
berputus asa dari
rahmat Allah.
Sesungguhnya Allah
mengampuni dosa-
dosa semuanya.
Sesungguhnya Dia-
lah Yang Maha
Pengampun lagi
Maha
Penyayang. ” (Az
Zumar: 53)
Harapan berbeda
dengan angan-
angan. Sebagai
contoh orang yang
berharap menjadi
orang baik maka ia
akan melakukan
hal-hal yang
merupakan ciri-ciri
orang baik,
sedangkan orang
yang berkeinginan
menjadi orang baik
namun tidak
berusaha untuk
melakukan
kebaikan maka
orang-orang inilah
yang tertipu oleh
angan-angan
dirinya sendiri.
Urgensi Cinta, Takut
dan Harap Dalam
Ibadah
Ketiga pilar yang
telah disebutkan di
atas harus terdapat
dalam setiap ibadah
seorang hamba.
Tidaklah benar
ibadah seseorang
jika satu saja dari
ketiga hal tersebut
hilang. Seseorang
yang memiliki rasa
takut yang
berlebihan akan
menyebabkan
dirinya putus asa,
sedangkan jika rasa
takutnya rendah
maka dengan
mudahnya dia akan
bermaksiat kepada
Tuhannya.
Kebalikannya
seseorang yang
berlebihan rasa
harapnya akan
menyebabkan dia
mudah bermaksiat
dan jika rendah rasa
harapnya maka dia
akan mudah putus
asa. Sedangkan
kedudukan cinta,
maka cinta inilah
yang mendorong
seseorang untuk
melakukan sesuatu.
Sehingga
diibaratkan bahwa
kedudukan ketiga
pilar ini dalam
ibadah bagaikan
kedudukan seekor
burung, dimana rasa
takut dan harap
sebagai kedua
sayapnya yang
harus seimbang dan
rasa cinta sebagai
kepalanya yang
merupakan pokok
kehidupannya.
Minggu, 22 November 2009
Album kompilasi UNIC
Album Kompilasi UNIC
yang di tunggu-
tunggu telah pun
berada di pasaran
sekarang!!!
Terdapat 4 buah lagu
baru. Juga
menampilkan ahli
terbaru UNIC iaitu
saudara Fakhrul
Radhi bekas anggota
kumpulan Zulfan dan
juga Juara Akademi
Al-Quran musim ke 3
4 buah lagu baru :
1. Jalan Pulangku
2. Bicara Tentang
Cinta
3. Hanyut
4. Langkah
Tercipta
yang di tunggu-
tunggu telah pun
berada di pasaran
sekarang!!!
Terdapat 4 buah lagu
baru. Juga
menampilkan ahli
terbaru UNIC iaitu
saudara Fakhrul
Radhi bekas anggota
kumpulan Zulfan dan
juga Juara Akademi
Al-Quran musim ke 3
4 buah lagu baru :
1. Jalan Pulangku
2. Bicara Tentang
Cinta
3. Hanyut
4. Langkah
Tercipta
Memahami Makna Idul Adha
Bulan ini
merupakan bulan
bersejarah bagi
umat Islam.
Pasalnya, di bulan
ini kaum muslimin
dari berbagai
belahan dunia
melaksanakan
rukun Islam yang
kelima. Ibadah haji
adalah ritual ibadah
yang mengajarkan
persamaan di
antara sesama.
Dengannya, Islam
tampak sebagai
agama yang tidak
mengenal status
sosial. Kaya, miskin,
pejabat, rakyat,
kulit hitam ataupun
kulit putih semua
memakai pakaian
yang sama.
Bersama-sama
melakukan
aktivitas yang
sama pula yakni
manasik haji.
Selain ibadah haji,
pada bulan ini umat
Islam merayakan
hari raya Idul Adha.
Lantunan takbir
diiringi tabuhan
bedug menggema
menambah
semaraknya hari
raya. Suara takbir
bersahut-sahutan
mengajak kita
untuk sejenak
melakukan refleksi
bahwa tidak ada
yang agung, tidak
ada yang layak
untuk disembah
kecuali Allah, Tuhan
semesta alam.
Pada hari itu, kaum
muslimin selain
dianjurkan
melakukan shalat
sunnah dua rekaat,
juga dianjurkan
untuk menyembelih
binatang kurban
bagi yang mampu.
Anjuran berkurban
ini bermula dari
kisah
penyembelihan
Nabi Ibrahim
kepada putra
terkasihnya yakni
Nabi Ismail.
Peristiwa ini
memberikan kesan
yang mendalam
bagi kita. Betapa
tidak. Nabi Ibrahim
yang telah
menunggu
kehadiran buah hati
selama bertahun-
tahun ternyata diuji
Tuhan untuk
menyembelih
putranya sendiri.
Nabi Ibrahim
dituntut untuk
memilih antara
melaksanakan
perintah Tuhan
atau
mempertahankan
buah hati dengan
konsekuensi tidak
mengindahkan
perintahNya.
Sebuah pilihan yang
cukup dilematis.
Namun karena
didasari ketakwaan
yang kuat, perintah
Tuhanpun
dilaksanakan. Dan
pada akhirnya, Nabi
Ismail tidak jadi
disembelih dengan
digantikan seekor
domba. Legenda
mengharukan ini
diabadikan dalam al
Quran surat al
Shaffat ayat
102-109.
Kisah tersebut
merupakan potret
puncak kepatuhan
seorang hamba
kepada Tuhannya.
Nabi Ibrahim
mencintai Allah
melebihi segalanya,
termasuk darah
dagingnya sendiri.
Kecintaan Nabi
Ibrahim terhadap
putra
kesayangannya
tidak menghalangi
ketaatan kepada
Tuhan. Model
ketakwaan Nabi
Ibrahim ini patut
untuk kita teladani.
Dari berbagai
media, kita bisa
melihat betapa
budaya korupsi
masih merajalela.
Demi menumpuk
kekayaan rela
menanggalkan
” baju”
ketakwaan. Ambisi
untuk meraih
jabatan telah
memaksa untuk
rela menjebol
” benteng-
benteng” agama.
Dewasa ini, tata
kehidupan telah
banyak yang
menyimpang dari
nilai-nilai
ketuhanan. Dengan
semangat Idul Adha,
mari kita teladani
sosok Nabi Ibrahim.
Berusaha
memaksimalkan
rasa patuh dan taat
terhadap ajaran
agama.
Di samping itu, ada
pelajaran berharga
lain yang bisa
dipetik dari kisah
tersebut.
Sebagaimana kita
ketahui bahwa
perintah
menyembelih Nabi
Ismail ini pada
akhirnya digantikan
seekor domba.
Pesan tersirat dari
adegan ini adalah
ajaran Islam yang
begitu menghargai
betapa pentingnya
nyawa manusia.
Hal ini senada
dengan apa yang
digaungkan Imam
Syatibi dalam
magnum opusnya al
Muwafaqot.
Menurut Syatibi,
satu diantara nilai
universal Islam
(maqoshid al
syari ’ah) adalah
agama menjaga
hak hidup (hifdzu al
nafs). Begitu pula
dalam ranah fikih,
agama
mensyari ’atkan
qishosh, larangan
pembunuhan dll. Hal
ini mempertegas
bahwa Islam benar-
benar melindungi
hak hidup manusia.
(hlm.220 )
Nabi Ismail rela
mengorbankan
dirinya tak lain
hanyalah demi
mentaati
perintahNya.
Berbeda dengan
para teroris dan
pelaku bom bunuh
diri. Apakah
pengorbanan yang
mereka lakukan
benar-benar
memenuhi perintah
Tuhan demi
kejayaan Islam
atau justru
sebaliknya?.
Para teroris dan
pelaku bom bunuh
diri jelas tidak
sesuai dengan nilai
universal Islam.
Islam menjaga hak
untuk hidup,
sementara mereka
— dengan aksi bom
bunuh diri— justru
mencelakakan
dirinya sendiri. Di
samping itu,
mereka juga
membunuh rakyat
sipil tak bersalah,
banyak korban tak
berdosa
berjatuhan. Lebih
parah lagi, mereka
bukan membuat
Islam berwibawa di
mata dunia,
melainkan
menjadikan Islam
sebagai agama
yang menakutkan,
agama pedang dan
sarang kekerasan.
Akibat aksi nekat
mereka ini justru
menjadikan Islam
laksana
” raksasa” kanibal
yang haus darah
manusia.
Imam Ghazali dalam
Ihya ’Ulumuddin
pernah
menjelaskan
tentang tata cara
melakukan amar
ma ’ruf nahi
munkar.
Menurutnya,
tindakan dalam
bentuk aksi
pengrusakan,
penghancuran
tempat
kemaksiatan
adalah wewenang
negara atau badan
yang mendapatkan
legalitas negara.
Tindakan yang
dilakukan Islam
garis keras dalam
hal ini jelas tidak
prosedural. (vol.2
hlm.311)
Sudah semestinya
dalam melakukan
amar makruf nahi
munkar tidak
sampai
menimbulkan
kemunkaran yang
lebih besar.
Bukankah tindakan
para teroris dan
pelaku bom bunuh
diri ini justru
merugikan
terhadap Islam itu
sendiri ?. Merusak
citra Islam yang
semestinya
mengajarkan
kedamaian dan
rahmatan lil
’ alamin. Ajaran
Islam yang bersifat
humanis,
memahami
pluralitas dan
menghargai
kemajemukan
semakin tak
bermakna.
Semoga dengan
peristiwa eksekusi
mati Amrozi cs,
mati pula
radikalisme Islam,
terkubur pula Islam
yang berwajah
seram.
Pengorbanan Nabi
Ismail yang begitu
tulus menjalankan
perintahNya jelas
berbeda dengan
pengorbanan para
teroris.
Di hari Idul Adha,
bagi umat Islam
yang mampu
dianjurkan untuk
menyembelih
binatang kurban.
Pada dasarnya,
penyembelihan
binatang kurban ini
mengandung dua
nilai yakni
kesalehan ritual
dan kesalehan
sosial. Kesalehan
ritual berarti
dengan berkurban,
kita telah
melaksanakan
perintah Tuhan
yang bersifat
transedental.
Kurban dikatakan
sebagai kesalehan
sosial karena selain
sebagai ritual
keagamaan, kurban
juga mempunyai
dimensi
kemanusiaan.
Bentuk solidaritas
kemanusiaan ini
termanifestasikan
secara jelas dalam
pembagian daging
kurban. Perintah
berkurban bagi
yang mampu ini
menunjukkan
bahwa Islam adalah
agama yang respek
terhadap fakir-
miskin dan kaum
dhu ’afa lainnya.
Dengan
disyari ’atkannya
kurban, kaum
muslimin dilatih
untuk mempertebal
rasa kemanusiaan,
mengasah
kepekaan terhadap
masalah-masalah
sosial, mengajarkan
sikap saling
menyayangi
terhadap sesama.
Meski waktu
pelaksanaan
penyembelihan
kurban dibatasi
(10-13 Dzulhijjah),
namun jangan
dipahami bahwa
Islam membatasi
solidaritas
kemanusiaan. Kita
harus mampu
menangkap makna
esensial dari pesan
yang disampaikan
teks, bukan
memahami teks
secara literal. Oleh
karenanya,
semangat untuk
terus
’ berkurban’
senantiasa kita
langgengkan pasca
Idul Adha.
Saat ini kerap kita
jumpai, banyak
kaum muslimin
yang hanya
berlomba
meningkatkan
kualitas kesalehan
ritual tanpa
diimbangi dengan
kesalehan sosial.
Banyak umat Islam
yang hanya rajin
shalat, puasa
bahkan mampu
ibadah haji berkali-
kali, namun tidak
peduli dengan
masyarakat
sekitarnya. Sebuah
fenomena yang
menyedihkan. Mari
kita jadikan Idul
Adha sebagai
momentum untuk
meningkatkan dua
kesalehan sekaligus
yakni kesalehan
ritual dan
kesalehan sosial.
Selamat berhari
raya !
merupakan bulan
bersejarah bagi
umat Islam.
Pasalnya, di bulan
ini kaum muslimin
dari berbagai
belahan dunia
melaksanakan
rukun Islam yang
kelima. Ibadah haji
adalah ritual ibadah
yang mengajarkan
persamaan di
antara sesama.
Dengannya, Islam
tampak sebagai
agama yang tidak
mengenal status
sosial. Kaya, miskin,
pejabat, rakyat,
kulit hitam ataupun
kulit putih semua
memakai pakaian
yang sama.
Bersama-sama
melakukan
aktivitas yang
sama pula yakni
manasik haji.
Selain ibadah haji,
pada bulan ini umat
Islam merayakan
hari raya Idul Adha.
Lantunan takbir
diiringi tabuhan
bedug menggema
menambah
semaraknya hari
raya. Suara takbir
bersahut-sahutan
mengajak kita
untuk sejenak
melakukan refleksi
bahwa tidak ada
yang agung, tidak
ada yang layak
untuk disembah
kecuali Allah, Tuhan
semesta alam.
Pada hari itu, kaum
muslimin selain
dianjurkan
melakukan shalat
sunnah dua rekaat,
juga dianjurkan
untuk menyembelih
binatang kurban
bagi yang mampu.
Anjuran berkurban
ini bermula dari
kisah
penyembelihan
Nabi Ibrahim
kepada putra
terkasihnya yakni
Nabi Ismail.
Peristiwa ini
memberikan kesan
yang mendalam
bagi kita. Betapa
tidak. Nabi Ibrahim
yang telah
menunggu
kehadiran buah hati
selama bertahun-
tahun ternyata diuji
Tuhan untuk
menyembelih
putranya sendiri.
Nabi Ibrahim
dituntut untuk
memilih antara
melaksanakan
perintah Tuhan
atau
mempertahankan
buah hati dengan
konsekuensi tidak
mengindahkan
perintahNya.
Sebuah pilihan yang
cukup dilematis.
Namun karena
didasari ketakwaan
yang kuat, perintah
Tuhanpun
dilaksanakan. Dan
pada akhirnya, Nabi
Ismail tidak jadi
disembelih dengan
digantikan seekor
domba. Legenda
mengharukan ini
diabadikan dalam al
Quran surat al
Shaffat ayat
102-109.
Kisah tersebut
merupakan potret
puncak kepatuhan
seorang hamba
kepada Tuhannya.
Nabi Ibrahim
mencintai Allah
melebihi segalanya,
termasuk darah
dagingnya sendiri.
Kecintaan Nabi
Ibrahim terhadap
putra
kesayangannya
tidak menghalangi
ketaatan kepada
Tuhan. Model
ketakwaan Nabi
Ibrahim ini patut
untuk kita teladani.
Dari berbagai
media, kita bisa
melihat betapa
budaya korupsi
masih merajalela.
Demi menumpuk
kekayaan rela
menanggalkan
” baju”
ketakwaan. Ambisi
untuk meraih
jabatan telah
memaksa untuk
rela menjebol
” benteng-
benteng” agama.
Dewasa ini, tata
kehidupan telah
banyak yang
menyimpang dari
nilai-nilai
ketuhanan. Dengan
semangat Idul Adha,
mari kita teladani
sosok Nabi Ibrahim.
Berusaha
memaksimalkan
rasa patuh dan taat
terhadap ajaran
agama.
Di samping itu, ada
pelajaran berharga
lain yang bisa
dipetik dari kisah
tersebut.
Sebagaimana kita
ketahui bahwa
perintah
menyembelih Nabi
Ismail ini pada
akhirnya digantikan
seekor domba.
Pesan tersirat dari
adegan ini adalah
ajaran Islam yang
begitu menghargai
betapa pentingnya
nyawa manusia.
Hal ini senada
dengan apa yang
digaungkan Imam
Syatibi dalam
magnum opusnya al
Muwafaqot.
Menurut Syatibi,
satu diantara nilai
universal Islam
(maqoshid al
syari ’ah) adalah
agama menjaga
hak hidup (hifdzu al
nafs). Begitu pula
dalam ranah fikih,
agama
mensyari ’atkan
qishosh, larangan
pembunuhan dll. Hal
ini mempertegas
bahwa Islam benar-
benar melindungi
hak hidup manusia.
(hlm.220 )
Nabi Ismail rela
mengorbankan
dirinya tak lain
hanyalah demi
mentaati
perintahNya.
Berbeda dengan
para teroris dan
pelaku bom bunuh
diri. Apakah
pengorbanan yang
mereka lakukan
benar-benar
memenuhi perintah
Tuhan demi
kejayaan Islam
atau justru
sebaliknya?.
Para teroris dan
pelaku bom bunuh
diri jelas tidak
sesuai dengan nilai
universal Islam.
Islam menjaga hak
untuk hidup,
sementara mereka
— dengan aksi bom
bunuh diri— justru
mencelakakan
dirinya sendiri. Di
samping itu,
mereka juga
membunuh rakyat
sipil tak bersalah,
banyak korban tak
berdosa
berjatuhan. Lebih
parah lagi, mereka
bukan membuat
Islam berwibawa di
mata dunia,
melainkan
menjadikan Islam
sebagai agama
yang menakutkan,
agama pedang dan
sarang kekerasan.
Akibat aksi nekat
mereka ini justru
menjadikan Islam
laksana
” raksasa” kanibal
yang haus darah
manusia.
Imam Ghazali dalam
Ihya ’Ulumuddin
pernah
menjelaskan
tentang tata cara
melakukan amar
ma ’ruf nahi
munkar.
Menurutnya,
tindakan dalam
bentuk aksi
pengrusakan,
penghancuran
tempat
kemaksiatan
adalah wewenang
negara atau badan
yang mendapatkan
legalitas negara.
Tindakan yang
dilakukan Islam
garis keras dalam
hal ini jelas tidak
prosedural. (vol.2
hlm.311)
Sudah semestinya
dalam melakukan
amar makruf nahi
munkar tidak
sampai
menimbulkan
kemunkaran yang
lebih besar.
Bukankah tindakan
para teroris dan
pelaku bom bunuh
diri ini justru
merugikan
terhadap Islam itu
sendiri ?. Merusak
citra Islam yang
semestinya
mengajarkan
kedamaian dan
rahmatan lil
’ alamin. Ajaran
Islam yang bersifat
humanis,
memahami
pluralitas dan
menghargai
kemajemukan
semakin tak
bermakna.
Semoga dengan
peristiwa eksekusi
mati Amrozi cs,
mati pula
radikalisme Islam,
terkubur pula Islam
yang berwajah
seram.
Pengorbanan Nabi
Ismail yang begitu
tulus menjalankan
perintahNya jelas
berbeda dengan
pengorbanan para
teroris.
Di hari Idul Adha,
bagi umat Islam
yang mampu
dianjurkan untuk
menyembelih
binatang kurban.
Pada dasarnya,
penyembelihan
binatang kurban ini
mengandung dua
nilai yakni
kesalehan ritual
dan kesalehan
sosial. Kesalehan
ritual berarti
dengan berkurban,
kita telah
melaksanakan
perintah Tuhan
yang bersifat
transedental.
Kurban dikatakan
sebagai kesalehan
sosial karena selain
sebagai ritual
keagamaan, kurban
juga mempunyai
dimensi
kemanusiaan.
Bentuk solidaritas
kemanusiaan ini
termanifestasikan
secara jelas dalam
pembagian daging
kurban. Perintah
berkurban bagi
yang mampu ini
menunjukkan
bahwa Islam adalah
agama yang respek
terhadap fakir-
miskin dan kaum
dhu ’afa lainnya.
Dengan
disyari ’atkannya
kurban, kaum
muslimin dilatih
untuk mempertebal
rasa kemanusiaan,
mengasah
kepekaan terhadap
masalah-masalah
sosial, mengajarkan
sikap saling
menyayangi
terhadap sesama.
Meski waktu
pelaksanaan
penyembelihan
kurban dibatasi
(10-13 Dzulhijjah),
namun jangan
dipahami bahwa
Islam membatasi
solidaritas
kemanusiaan. Kita
harus mampu
menangkap makna
esensial dari pesan
yang disampaikan
teks, bukan
memahami teks
secara literal. Oleh
karenanya,
semangat untuk
terus
’ berkurban’
senantiasa kita
langgengkan pasca
Idul Adha.
Saat ini kerap kita
jumpai, banyak
kaum muslimin
yang hanya
berlomba
meningkatkan
kualitas kesalehan
ritual tanpa
diimbangi dengan
kesalehan sosial.
Banyak umat Islam
yang hanya rajin
shalat, puasa
bahkan mampu
ibadah haji berkali-
kali, namun tidak
peduli dengan
masyarakat
sekitarnya. Sebuah
fenomena yang
menyedihkan. Mari
kita jadikan Idul
Adha sebagai
momentum untuk
meningkatkan dua
kesalehan sekaligus
yakni kesalehan
ritual dan
kesalehan sosial.
Selamat berhari
raya !
Langganan:
Postingan (Atom)